Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra
ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MEMPUNYAI NAMA-NAMA YANG INDAH
Penjelasan nama Allah al-Fattâh yang dalam bahasa Arab berarti
"al-Hâkim" (yang memutuskan perkara dengan adil) memiliki makna yang sangat sempurna dari segala segi. Sesungguhnya Allah Maha
Pemberi keputusan dengan adil dalam segala perkara yang terjadi antara sesama
makhluk, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
membutuhkan saksi-saksi dalam menetapkan keputusan hukum. Karena Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu, baik yang lahir (tampak) maupun yang tersembunyi.
ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MEMPUNYAI NAMA-NAMA YANG INDAH
Allah
Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama yang sangat mulia dan indah. Kemuliaan
dan keindahan tersebut ditinjau dari dua segi, yaitu segi lafazh dan segi
maknanya. Makna dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut menunjukkan
sifat Allah yang Maha Sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan Allah
memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah kepadanya dengan nama-nama-Nya
tersebut. Dan jauhilah orang-orang yang menyimpang dalam (memahami)
nama-nama-Nya. Mereka akan dibalasi terhadap apa yang mereka lakukan. [al-A'râf/07:180]
Tentang
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , ada beberapa hal yang harus kita pahami
sebagaimana terdapat pada ayat di atas.
Pertama :
Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama yang sangat mulia
lagi indah. Barang siapa yang tidak meyakini nama-nama Allah Subhanahu wa
Ta’ala , maka orang tersebut tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
secara utuh dan benar. Bila kita perhatikan, begitu banyak ayat Al-Qur`ân yang
ditutup dengan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan makna nama-nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala tersebut sangat erat hubungannya dengan konteks ayat itu
sendiri.
Kedua :
Nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut menggandung makna yang sangat
sempurna yang disebut sifat. Orang yang tidak meyakini tentang sifat yang
terkandumg dalam nama-nama Allah berarti ia telah melakukan penyimpangan dalam
beriman kepada Allah.
Ketiga :
Berdoa dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama mulia
itu. Untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala , ialah dengan memahami makna nama-mana Allah tersebut. Sehingga
menghadirkan rasa khusyu' dalam beribadah, karena saat beribadah seolah-olah
kita melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau kita merasa sedang dilihat
oleh-Nya.
KEUTAMAAN
MENGHAFAL 99 NAMA-NAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YANG INDAH
Setelah
memperhatikan perihal di atas, semakin jelaslah bagi kita betapa penting
mempelajari makna nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala . Nabi kita Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan pula dalam sabdanya:
إِنَّ
لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ
الْجَنَّةَ (متفق عليه).
Sesungguhnya
Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu, barang siapa
yang menghafalnya akan masuk surga. [HR al-Bukhâri Muslim]
Kata الإِحْصَاء (menghafal)
dijelaskan oleh para ulama, memiliki beberapa tingkatan. Pertama, menghafalnya
dengan lisan. Kedua, memahami makna yang terkandung di dalam nama-mana Allah
tersebut. Ketiga, mengaplikasikan makna nama-nama Allah dalam doa dan ibadah,
atau dengan kata lain menghafalnya dalam bentuk amalan.[ Fâ`idah al-Jalîlah fi
Qawâid al-Husnâ min Badaai' al-Fawâ`id, Tahqîq: Syaikh 'Abdurrazzâq al-Badr.]
Hadits di
atas tidak menunjukkan pembatasan jumlah keseluruhan nama-nama Allah Subhanahu
wa Ta’ala . Tetapi, membatasi jumlah nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
mesti dihafalkan untuk memperoleh keutamaan seperti disebutkan dalam hadits,
yaitu masuk surga. Sebab, telah dijelaskan dalam hadits lain, bahwa jumlah
keseluruhan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada yang mengetahuinya kecuali
Allah semata. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak
mengetahuinya secara pasti, seperti tersurat pada doa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam:
أَسْأَلُكَ
بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ
أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
رواه أحمد وغيره.
Aku memohon
kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki, yang Engkau beri nama
dengannya diri-Mu, atau Engkau beritahukan kepada salah seorang dari
makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu
di alam ghaib. [HR Ahmad dan lainnya, dishahîhkan oleh Ibnul Qayyim dan
Syaikh al-Albâni].[ Syifâ`ul-'Alîl", hlm. 274, dan ash-Shahîhah, 1/336.]
Dalam hadits
ini disebutkan tiga bagian dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala .
1. Bagian
pertama, nama yang Allah beritahukan kepada sebahagian makhluk-Nya, baik dari
kalangan malaikat atau lainnya, tetapi tidak menyebutkannya di dalam kitab suci
Allah.
2. Bagian
kedua, nama yang Allah turunkan dan menyebutkannya di dalam kitab suci-Nya.
3. Bagian
ketiga, nama yang Allah sembunyikan di sisi-Nya di alam ghaib.
Dari
penjelasan ini, maka nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya dapat kita
ketahui melalui kitab Al-Qur`ân dan hadits-hadits yang shahîh. Dalam hal ini,
menurut pendapat ulama yang telah melakukan penelitian, mereka menyatakan bahwa
nama-nama Allah yang terdapat di dalam Al-Qur`ân dan hadits-hadits shahîh
jumlahnya lebih dari sembilan puluh sembilan nama. [Al-Fatâwâ al-Kubra,
1/217. Majmû' al-Fatâwâ, 22/482. Mausû'ah Asma wash-Shifât, 1/18-25.]
Lalu,
bagaimana memahami kedua hadits di atas? Kedua hadits tersebut tidak saling bertentangan.
Hal tersebut bisa dipahami dengan contoh berikut.
Umpamanya,
jika seseorang mengatakan "saya memiliki uang sejumlah 99.000 rupiah untuk
saya infakkan". Tentu, perkataan ini tidak akan dipahami bahwa ia tidak
memiliki uang yang lain. Boleh jadi, ia memiliki 200.000 rupiah, tetapi yang
diinfakkan hanya 99.000 rupiah. Dengan demikian, kedua hadits tersebut sangat
mudah untuk ditemukan. Yang penting, ialah menghafal 99 nama Allah Subhanahu wa
Ta’ala sebagai tebusan untuk mendapatkan surga. Nama-nama yang dihafal mungkin
saja berbeda lafazhnya, tetapi jumlahnya sama. Karena nama-nama Allah Subhanahu
wa Ta’ala lebih dari 99.
PENJELASAN
TENTANG MAKNA-MAKNA AL FATTAH
Secara
etimologi (bahasa) makna kata (الفتّاح) dalam bahasa Arab berarti "al-Hâkim" (yang
memutuskan perkara dengan adil), sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala :
رَبَّنَا
افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ
Ya Rabb kami,
berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) 1, dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. [al-A'râf/07:
89]. 1 An-Nihâyah fi Gharîbil-Hadits, 3/406.
Lisânul-'Arab, 2/539.
Kata
"al-Fath" (الْفَتْحُ), juga berarti kemenangan atau pertolongan. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
إِنْ
تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ
Jika kalian
meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan itu kepada kalian. [al-Anfâl/08:
19]
Imam ath-Thabari
rahimahullah berkata: "Asal kata al-Fattâh dalam bahasa Arab berarti النَّصْرُ (kemenangan,
pertolongan), الْقَضَاءُ (keputusan) dan الْحُكْمُ (hukum). Bila ada orang mengatakan "ya Allah, bukakanlah
antara aku dan si Fulan," itu maknanya "berilah keputusan antara aku
dan dia" [ Tafsir ath-Thabari, 2/254.].
Adapun makna
al-Fattâh (الفتّاح) secara syar'i,
ialah sesuai dengan pengertian yang terkandung dalam Al-Qur`ân dan Hadits
disertai dengan penjelasan para ulama. Nama ini terdapat dalam surat Saba' ayat
26 :
وَهُوَ
الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ
Dan Dia-lah
Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala Menetapkan Keputusan
Para ulama
menjelaskan, nama Allah al-Fattâh memiliki makna yang sangat sempurna dari
segala segi. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi keputusan dengan adil dalam segala
perkara yang terjadi antara sesama makhluk, baik di dunia maupun di akhirat
kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan saksi-saksi dalam menetapkan
keputusan hukum. Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang lahir
(tampak) maupun yang tersembunyi. Karena itu, nama "al-Fattâh" dalam
ayat di atas digandengkan dengan nama Allah "al-'Alîm" (Yang Maha
Mengetahui).
Imam
ath-Thabari rahimahullah berkata dalam menjelaskan maksud ayat di atas:
"Katakanlah kepada mereka: Rabb akan mengumpulkan kita pada hari Kiamat di
hadapan-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengeluarkan keputusan
antara kita secara adil. Sehingga akan jelas ketika itu siapa yang mendapat
petunjuk diantara kita dan siapa yang sesat. Dia Maha Pemberi keputusan dan Maha
Mengetahui, Yang Maha Tahu dengan keputusan diantara makhluk-Nya, Yang tidak tersembunyi bagi-Nya sekecil apa pun. Dan Dia l tidak membutuhkan
saksi-saksi untuk memberi tahu siapa yang benar dan siapa yang salah". [Tafsir ath-Thabari, 22/95.]
Allah-lah
yang memberi keputusan antara ahlul-haq dan ahlul-batil, antara para rasul dan
musuh-musuh mereka, antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir, baik
di dunia maupun di akhirat kelak.
Di antara
keputusan Allah terhadap antara ahlul-haq dan ahlul-batil, antara para rasul
dan musuh-musuh mereka, antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir
ketika di dunia, ialah membela dan menolong para ahlul haq, para rasul dan
orang-orang beriman dalam menghadapi tantangan dan perlawanan dari musuh-musuh
mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kemenangan yang dibukakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
orang-orang beriman ketika perang Badr.[ Tafsir al-Qurthubi, 7/386 dan
Tafsir Ibnu Katsîr, 2/297.]
إِنْ
تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ
Jika kalian
meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan itu kepada kalian. [al-Anfâl/08:19].
Allah
Subhanahu wa Ta’ala Menolong Kaum Mukminin yang Berjuang Menaklukkan
Negeri-Negeri Kaum Kuffar
Pengertian
al-Fattâh yang lain, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong orang-orang
beriman dalam berjuang membuka (menaklukkan) negeri-negeri kaum kuffâr. Seperti
dibukanya negeri Khaibar melalui Khalifah 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu
anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ
سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ يَوْمَ خَيْبَرَ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ
عَلَى يَدَيْهِ (متفق عليه)
dari Sahl bin
Sa'ad Radhiyallahu anhu, dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda pada waktu perang Khaibar: "Saya akan berikan bendera perang
kepada seseorang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuka kemenangan melalui
tangannya". [HR Bukhâri dan Muslim].
Demikian
pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan janji kepada kaum mukminin dengan
penaklukan kota Makkah dalam beberapa firman-Nya:
لَقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ
مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya
Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia
kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka
lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat (waktunya) .[al-Fath/48: 18]
Kemudian
Allah Subhanahu wa Ta’ala membuktikan janji kemenangan yang tersebut pada ayat
di atas dengan dibukanya kota Makkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا
فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. [al-Fath/48:1].
Menurut
pendapat sebagian ulama tafsir, ayat ini mengisahkan tentang penaklukan kota
Makkah2, setelah sebelumnya kaum kuffar
Quraisy mengusir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin dari kota
Makkah. Karena itu, para nabi dan rasul berdoa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala
menolong mereka dan memberi keputusan terhadap kaum mereka yang menentang. Nabi
Syu'aib Alaiissallam memanjatkan doa berikut :
رَبَّنَا
افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ
Ya Rabb kami,
berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah
Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. [al-A'râf/07: 89]. 2Tafsir
al-Qurthubi, 7/387.
Begitu pula
Nabi Nuh Alaihissallam berdoa:
قَالَ
رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي
وَمَنْ مَعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Nuh berkata:
"Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka adakanlah suatu
keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang
mukmin yang bersamaku. [Asy-Syu'arâ`/26: 116-118].
Keputusan
yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap kaum Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallamuh Alaihissallam, ialah dengan dibukanya pintu adzab untuk mereka dari
langit sebagaimana yang terdapat dalam kalam Allah:
فَفَتَحْنَا
أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ
Maka Kami
bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. [al-Qamar/54:11].
Demikian,
keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap setiap kaum yang menentang
kebenaran dan melupakan peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan
mendatangkan adzab yang sangat pedih untuk mereka. Seketika itu, mereka
berputus-asa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا
فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Maka tatkala
mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun
membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka
bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka
dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.[al-An'âm/06:
44].
Di antara
keputusan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Rasul n dan kaum
mukminin, ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka rahasia kemunafikan yang
tersembunyi dalam diri orang-orang munafik. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
فَتَرَى
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا
دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ
فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ
Maka, kamu
akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik)
bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami
takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan
kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka
karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam
diri mereka. [al-Mâ`idah/05:52].
Dalam firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain disebutkan (artinya): (Yaitu) orang-orang
yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang
mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah, mereka berkata:
"Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang
kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami
turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah
akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat, dan Allah sekali-kali
tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang
yang beriman. [an-Nisâ`/04:141]
Demikian
pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi keputusan dengan seadil-adilnya
terhadap hamba-Nya yang berbantah-bantah di hadapan-Nya di akhirat kelak.
Disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
قُلْ
يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ
الْعَلِيمُ
Katakanlah:
"Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan
antara kita dengan benar (adil). Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha
Mengetahui". [Saba/34:26].
Dalam firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain dinyatakan, yang artinya: Kemudian,
sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Rabbmu. [az-Zumar/39:31].
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata: "Maksud ayat ini; sesungguhnya kalian pasti akan
berpindah dari dunia ini. Kalian akan berkumpul di hadapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala pada hari Kiamat. Kemudian kalian berbantah-bantah di hadapan Allah
Subhanahu wa Ta’ala tentang perkara tauhid dan syirik waktu di dunia. Maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi keputusan dengan haq (adil). Dia Maha
Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui. Lantas, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyelamatkan orang-orang mukmin, orang-orang yang bertauhid serta orang-orang
yang ikhlas. Dan mengadzab orang-orang kafir, orang-orang yang mengingkari
(ayat-ayat Allah), dan orang-orang musyrik serta orang-orang yang mendustakan
(kebenaran)"[ Tafsir Ibnu Katsir, 4/53.].
Allah
Subhanahu wa Ta’ala Maha Pembuka Segala Kunci Kebaikan
Al Fattâh (الفتّاح), juga berarti
Maha Pembuka segala kunci kebaikan atas seluruh hamba-Nya. Baik berupa iman,
ilmu dan hidayah. Barang siapa dibukakan baginya kebaikan, maka tidak seorang
pun yang dapat menghalanginya. Demikian pula, barang siapa yang ditutup dan dikunci
hatinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka tidak seorang pun dapat membuka
dan menunjukinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا
يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا
مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Apa yang
dibukakan Allah kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang
dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun
yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. [Fâthir/35:2].
Syaikh Hâfizh
al-Hakami rahimahullah berkata: "Al Fattâh, adalah Dzat Yang Membuka bagi
siapa saja yang dikehendaki-Nya, untuk memperoleh karunia-karunia-Nya yang luas
sesuai yang diinginkan-Nya pula. Seseorang dibukakan kekayaan baginya.
Sementara orang lainnya dibukakan kekuasaan. Dan orang satu lagi dibukakan ilmu
dan hikmah. Demikianlah, karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala diberikan kepada
siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki karunia yang
besar. (Allah berfirman, yang artinya), 'apa yang dibukakan Allah kepada
manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan
apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup
melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana'." [Ma'ârijul-Qabûl, 1/48.]
Oleh sebab
itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita
sebuah doa ketika akan memasuki masjid:
اللَّهُمَّ
افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ (رواه مسلم)
Ya Allah
bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu [HR Muslim].
Allah
Subhanahu wa Ta’ala Maha Pembuka Pintu-Pintu Rejeki dan Rahmat Bagi Hamba-Nya
Yang Bertakwa
Al-Fattâh (الفتّاح), juga berarti
Maha Pembuka pintu-pintu rizki dan rahmat untuk para hamba-Nya yang bertakwa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
membukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya [al-A'râf/07:96].
Segala kunci
yang ghaib hanya berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tidak ada yang
dapat membuka dan mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala . Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَعِنْدَهُ
مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
Dan pada sisi
Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali
Dia sendiri... [al-An'âm/6:59].
Allah
Subhanahu wa Ta’ala membuka sebagian dari hal yang ghaib bagi hamba-hamba yang
dikehendaki-Nya dari kalangan rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang
artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal
yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara
rasul-rasul-Nya. [Ali 'Imrân/03:179].
Allah Subhanahu
wa Ta’ala Mengajarkan Puji-Pujian Kepada Rasulullah Untuk Memuji-Nya
Di padang
mahsyar, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membukakan (mengajarkan)
kalimat-kalimat pujian kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
memuji kepada-Nya. Hingga membuka pintu syafa'at untuk seluruh umat manusia
saat menjalani hisab (perhitungan amal). Kalimat-kalimat pujian tersebut belum
pernah diketahui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya ketika di
dunia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
"Apabila hari Kiamat telah terjadi, (saat itu) manusia akan saling
berdesak-desakan. Mereka mendatangi Adam Alaihissallam seraya berkata:
'Mintakanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kami'. Adam menjawab: 'Saya tidak
berhak untuk itu. Coba datangilah Ibraahiim. Sesungguhnya dia adalah
Khaliilullah,' maka mereka mendatangi Ibraahiim. (Dan) Ibraahiim pun menjawab:
'Saya tidak berhak untuk itu. Coba datangilah Musa, sesungguhnya dia adalah
Kaliimullah,' kemudian Musa menjawab: 'Saya tidak berhak untuk itu. Cobalah
datangi Isa, sesungguhnya dia Ruhullah,' maka, Isa pun menjawab: 'Saya tidak
berhak untuk itu. Coba datangilah Muhammad,' kemudian mereka datang kepadaku.
Aku pun menjawab: 'Saya yang berhak untuk itu,' lantas saya memohon izin kepada
Rabbku, lalu aku diberi idzin. Dan Allah mengilhamkan kepadaku puji-pujian
sebagai pujianku pada-Nya yang tidak aku ketahui sekarang. Selanjutnya aku
memuji-Nya dengan puji-pujian tersebut". [HR Bukhâri dan Muslim].
BEBERAPA
PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI NAMA ALLAH "AL FATTAH"
Sebetulnya,
inilah tujuan sesungguhnya bagi seorang muslim dalam mengetahui nama-nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Pengenalan terhadap nama Allah al-Fattâh beserta
makna-maknanya, memberikan pengaruh positif pada iman dan ibadah serta akhlak
seorang muslim dalam kehidupannya sehari-hari.
Dengan
memahami makna nama Allah al-Fattâh, akan menumbuhkan sifat-sifat mulia dalam
diri seorang muslim. di antaranya sebagai berikut.
1.
Menumbuhkan sifat tawakkal dalam diri seorang mukmin, terutama bagi seorang
da'i dalam menghadapi tantangan di medan dakwah. Sebagaimana dahulu para nabi
dan rasul bertawakal dalam dakwah mereka. Dengan keyakinan, bahwa Allah Maha
Pemberi keputusan dengan adil terhadap hamba-hamba-Nya. Ibnul Qayyim Rohimahullah
menerangkan, sikap tawakkal sangat erat hubungannya dengan nama-nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang mulia, di antaranya nama "al-Fattâh".[
Madârijus-Sâlikîn, 2/125.]
2.
Menumbuhkan sifat ikhlas dalam meminta petunjuk dan rizki kepada Allah. Karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa membuka hati seseorang untuk menerima
petunjuk. Allah jugalah yang berkuasa membukakan pintu rizki bagi seorang
hamba. Bila hal ini dapat ditanamkan dalam diri kita, tentu kita tidak akan
meminta sekalipun kepada sang kiyai atau wali yang sudah mati. Kita tidak
meminta kecuali hanya kepada Allah semata.
3.
Menumbuhkan sikap rajâ` (berharap-harap akan rahmat dan pertolongan Allah)
dalam diri seorang muslim. Karena segala kunci rahmat dan kebaikan berada di
sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tidak ada yang mampu membuka pintu-pintu
rahmat tersebut kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala . Pintu-pintu rahmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala akan terbuka di dunia ini bagi hamba-hamba yang bertakwa.
Rahmat di sini dalam arti luas, yakni bisa berupa iman, ilmu, petunjuk, rizki,
kesehatan, kesuksesan dan lain-lain. Adapun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala di
akhirat kelak, tentunya jauh lebih luas dan lebih besar bila dibandingkan
dengan yang ada di dunia.
4.
Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang telah membuka hati kita untuk beriman, bertauhid dan
beribadah kepada-Nya. Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka
pintu-pintu nikmat lainnya untuk kita. Mulai dari nikmat sewaktu kita dalam
rahim ibu, terlahir dengan selamat tanpa cacat, kemudian pintu nikmat dan
rahmat senantiasa dibukakan Allah di hadapan kita. Tidakkah selayaknya kita
bersyukur kepada Allah?! Kita tidak pernah terlepas dari nikmat Allah walau
satu detik saja.
5. Memupuk
rasa ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena pintu
rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa terbuka untuk orang-orang yang
bertakwa. Kesulitan mendapatkan pekerjaan, harga barang yang senantiasa
melonjak naik, musibah yang tak henti-hentinya, semua itu tidak ada yang
sanggup mengeluarkan kita dari pintu kesulitan menuju pintu yang luas penuh
kebahagiaan dan ketentraman, kecuali Allah al-Fattîh (Dzat Yang Maha Pembuka
segala kesulitan). Mari kita simak kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: "Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri mau beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membukakan untuk
mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". [al-A'rîf/07:96].
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: "Barang siapa bertakwa kepada
Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki
dari arah yang tiada disangka-sangkanya". [ath-Thalâq/65: 2-3].
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: "Dan barang siapa yang
bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya". [ath-Thalâq/65:4].
Demikianlah
bahasan kita berkaitan dengan nama Allah, al-Fattâh. Semoga Allah senantiasa
membuka pintu hati kita dengan iman, ilmu dan amal, serta membuka pintu-pintu
rizki untuk kita, anak kita dan saudara-saudara kita seiman. Wallahu a'lam.
[Disalin dari
majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar